Baterai Kamera DSLR Boros? Ini penyebabnya

0
237
baterai kamera DSLR
Advertisement

Punya kamera DSLR?
Ada masalah dengan batre cepat rusak?
Hampir semua peralatan elektronik saat ini mengndalkan teknologi baterai lithium. Baterai jaman sekarang jauh lebih compact dan ringan dengan kapasitas lebih besar. Hal ini mengubah pola pemakaian peralatan elektronik termasuk hp dan kamera DSLR.

Di balik ukurannya yang lebih kecil dan bobot yang ringan, baterai ini ternyata ada faktor usia pemakaiannya, Sehingga dalam jangka waktu tertentu, baterai ini hsudah harus di ganti dengan yang baru.

Untuk teman-teman yang punya masalah di baterai yang sering rusak, mungkin karena baterai sudah “TUA” atau dengan kata lain memang sudah waktunya di ganti. Kita sebagai pengguna kadang lalai bahwa setiap tombol kamera DSLR kita pada posisi ON, maka sebagai sumber daya baterai akan menjalankan tugas untuk memberikan daya agar kamera dapat bekerja.

Nah, disini kita akan bahas beberapa tips dan trik “mengakali” baterai supaya lebih awet dan usia pakainya lebih lama. Ada banyak hal yang mungkin sudah jadi kebiasaan tanpa kita sadari sangat sering kita lakukan. Sama-sama cek yuk, kalo kalian melakukan hal-hal di bawah ini, ngaku aja…lalu coba hentikan kebiasaan tersebut.

Layar LCD – Live View

Mode live view adalah fitur kamera DSLR untuk memudahkan kita mencari komposisi frame yang pas untuk di jepret.

Sebaiknya kebiasaan ini di kurangi, karena layer LCD adalah konsumen daya baterai terbesar di kamera DSLR. Gunakan fitur live view seperlunya saja. Kecuali ada yang bermasalah dengan mata, silakan gunakan fitur ini dengan resiko, usia baterai kamera DSLR kita menjadi lebih pendek.

Format RAW menguras daya

Di artikel yang membahas mengenai format kamera RAW, kita sama-sama sudah memahami bahwa kamera RAW memiliki ukuran file yang jauh lebih besar. Selain jadi boros pada kartu , hal ini juga membutuhkan daya baterai yang besar.

Jadi sebaiknya kita juga bijak memilah-milah, mana yang akan di jepret dengan format RAW. Jika mulai ketagihan dan menurut kalian “WAJIB” jepret dengan format RAW!, maka harus menelan resiko baterai kita akan berumur lebih pendek.

Continuous Shoot

burst, memakan daya baterai

Mode continuousatau lebih di kenal mode burst, yaitu memotret terus menerus pada objek bergerak untuk menangkap atau emncari komposisi atau pun juga mencari Gerakan tepat dari sebuah objek.

Continues shoot ini pasti juga akan diaplikasikan bersamaan dengan autofokus continues. FYI, autofocus ini memang fitur yang di andalkan oleh produsen kamera untuk menarik peminat. Namun dibalik itu kita harus tahu, bahwa autofocus ini menggunakan electric motor yang menggerakkan elemen lensa. Beberapa merk kamera ada yang menempatkan motornya pada bodi kamera, tapi juga ada yang beberapa menempatkan motor pada lensa.

Jadi, karena pergerakan motor yang harus “maju mundur cantik” mencari focus dalam waktu yang singkat, hal ini akan menyebabkan kebutuhan daya baterai menjadi tinggi. Alhasil, baterai kita akan terkuras dayanya. Dan daya yang sering terkuras secara ekstrim ini adalah penyebab berkurangnya usia pakai baterai.

Zoom in – Zoom out

zoom in dan zoom out menyebabkan baterai kamera boros

Pada beberapa lensa ada istilah powered zoom, artinya Gerakan zoom in dan zoom out dari lensa menggunakan motor yang menggerakkan elemen-elemen lensa. Memang asyik menggunakan fitur ini, tapi kita harus tahu bahwa  setiap Gerakan maju- mundur cantik ini akan memakan daya lebih besar pastinya.

Untuk atau yang baru punya kamera, OK lah…
Tapi harus tahu resikonya bahwa kita akan cepat kehilangan daya baterai dan tentunya mengurangi usia pakai baterai kamera kita.

Tombol Shutter

Pada saat kita mencari fokus pada objek, seringkali kita menekan tombol shutter setengah untuk mengunci fokus, baru kemudian menekan penuh untuk jepret.

Pertanyaannya, berapa kali kita berusaha mengunci fokus tapi gagal lalu melakukannya sampai beberapa kali sebelum akhirnya kita merilis tombool shutter, jepret!

Tahu gak? Sebenarnya saat kita mencari fokus untuk di kunci, maka elemen-elemen lensa itu bergerak maju mundur cantik untuk mencari fokus yang kita tentukan. Semakin sering kita gagal mengunci, maka akan lebih sering kita melakukan pencarian fokus melalui tombol shutter setengah waras ini.

Iya betul, pencarian fokus dari lensa inilah yang menyebabkan baterai kita terkuras dayanya. Jadi gimana? Ya sudah, itu kan fitur kamera. Maksimalkan saja, semua ada resikonya kok.

Flash Internal

internal flash, salah satu penyebab daterai kamera dslr boros

Fitur utama dari beberapa kamera DSLR ini adalah internal Flash. Dalam kondisi cahaya yang kurang, internal flash ini memang diperlukan untuk mengisi cahaya. Satu masalah cahaya selesai, namun perlu di ingat bahwa internal flash ini juga memakan daya yang cukup besar dari baterai kita.

Ushakan punya eksternal flash yang nantinya bisa di pasang pada hot shoe di bagian atas kamera. Sehingga Ketika kondisi cahaya kurang, kita akan tetap menggunakan flash tapi tidak mengorbankan usia pakai baterai kamera DSLR kita.

Mode hemat daya

Apakah mode “power save” ini efektif menghemat daya baterai?
Antara iya dan tidak, kita sama-sama ga tahu secara teknis mode ini menghemat daya dari sisi mana?. Tapi tidak ada salahnya kita memaksimalkan mode ini supaya “nggak nganggur”.

Pabrikan pasti punya alasan dan lebih mengerti dari sisi mana daya baterai ini bisa di hemat. Manfaatka saja, jangan pusing-pusing.

Ada fitur wireless?

Hati-hati dengan mode ini. Kita sering keasyikan memnidah file foto secara wireless sambal pamer kecanggihan kamera kita ke teman hunting. Saat kita memindahkan data, maka ada bagian kamera yang menjadi transmitter memancarkan sinyal dan mencari “teman” untuk menangkap sinyal.

Setelah file berhasil di pindahkan? Si pencari sinyal tadi akan tetap mencari peralatan terdekat yang berperan sebagai penerima transfer data yang dipancarkan.
Lupa mematikan fitur ini menyebabkan kamera terus bekerja memancarkan sinyal tadi. Alhasil daya baterai kamera DSLR kita akan terkuras, dan tentu saja hal ini juga nantinya akan menyebabkan usia pakai baterai kita menjadi pendek.

Kesimpulan

Dari penjelasan-penjelasan di atas, mungkin tanpa kita sadari kalau kita sendiri sering melakukannya. Untuk beberapa hal yang tidak bisa di hindari, it’s OK. Saya pribadi lebih suka memotret dengan format RAW, ya sudah lakukan saja. Dan saya tahu konsekuensi menggunakan format RAW ini. Investasi di SD Card dengan kapasitas lebih besar dan kecepatan lebih tinggi. Dan tentu saja, baterai cadangan akan selalu standby di tas kamera.

Mungkin teman-teman juga ada yang di harusnkan memotret dalam mode burst karena pekerjaan, misalnya fotografer sport atau alam liar. Karena alasan ini maka beberapa kondisi di atas tidak bisa di hindari. Ya sudahlah, beli baterai yang banyak untuk cadangan.

Jadi, semua di sesuaikan dengna situasi dan kondisi masing-masing. Semoga artikel ini menambah wawasan kita. Silakan share artikel ini ke teman-teman kalian yak. Salam jepret!

Leave a Reply