Foto Jurnalistik, dibalik Epiknya Landscape Bencana Alam – Oscar Matuloh

0
323
Camera - Camera Lens
foto jurnalistik oscar matuloh
Advertisement

Sebuah foto bisa berarti jutaan makna, begitulah peribahasa yang populer di kalangan penghobi fotografi. Semua orang ingin menghasilkan foto yang dapat menceritakan apa yang dilihatnya melalui sebuah gambar (foto). Foto-foto ini akan di wartakan melalui media-media mainstream maupun media online seperti sekarang. Dan karya foto ini biasa di sebut dengan Foto Jurnalistik.

Kalau ada headline yang seru di suratkabar, akan selalu ada sebuah foto yang bikin kita penasaran. Ini dia pakar fotografi spesialis bencana alam, Oscar Matuloh.

Tak bisa dipungkiri bahwa fotografi menjadi salah satu perekam sejarah yang paling nyata dalam menangkap berbagai kejadian besar pada abad ke-21. Dari sebingkai foto mampu menghadirkan emosional suka dan duka, serta kepedihan namun juga kegembiraan.

Foto jurnalistik merupakan suatu medium sajian informasi untuk menyampaikan bukti visual atas berbagai peristiwa seluas-luasnya, bahkan hingga ke kerak di balik peristiwa tersebut. Fotografi menjadi medium yang menyimpan memori nyata dan bisa kita lihat sepanjang waktu.

Memang bencana alam tidak bisa terhindarkan dari tahun ke tahun di bumi pertiwi yang tercinta ini, hal itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja seiring berjalanya waktu. Tak lepas dari kejadian tersebut, pasti tidak luput dari sosok jurnalistik yang menangkap fenomena tersebut dengan sudut pandang yang se-dramatis mungkin.

Meskipun dilanda kondisi yang cukup ekstrim di wilayah yang mengalami bencana tersebut, para reporter dan jurnalistik ini siap bertaruh nyawa demi memberikan informasi serta gambaran yang akan disajikan untuk kita semua. Siapakah sosok yang dimaksud tersebut? Beliau adalah Oscar Motuloh.

Profile dan Perjalanan Karir Oscar Motuloh

Oscar Motuloh lahir di Surabaya pada tanggal 17 Agustus 1959, ia adalah seorang fotojurnalis terkemuka Indonesia yang memulai karirnya dengan menjadi wartawan tulis Antara pada tahun 1988. Memang pada awalnya ia tidak memiliki rencana sebagai seorang , hingga pada tahun 1990 ia ditunjuk oleh Parni Hadi, pemimpin redaksi Antara untuk menangani biro foto. Walaupun pada awalnya ia sedikit tidak menyukai keputusan tersebut, namun ia tetap menyetujuinya.

 Ia menganggap fotografi adalah tantangan baru yang menarik. Ia pun akhirnya bergabung di dalam Divisi Foto Pers Antara. Oscar mulai mempelajari fotografi secara otodidak. Ia juga mengikuti pendidikan fotografi di Hanoi pada tahun 1991. Pengalaman dan pengetahuan yang ia dapat selama menjalani profesi sebagai membuat Oscar berhasil menerbitkan berbagai buku fotografi favorit seperti Marinir dan Pengawal Samudra.

Dan pada tahun 1992 ia juga merupakan penanggung jawab dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara. Galeri Foto Jurnalistik Antara adalah galeri foto jurnalistik pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang terletak di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Di luar jabatannya di Biro Foto dan Galeri Antara, ia juga mengajar fotojurnalistik di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dan sering diundang sebagai pembicara dalam acara diskusi foto, sebagai juri dalam lomba-lomba foto, dan sebagai kurator pameran. Oscar Motuloh juga terlibat dalam pembentukan Pewarta Foto Indonesia, sebuah organisasi  yang menaungi para fotojurnalis.

Di luar jabatannya di Biro Foto dan Galeri Antara, ia juga mengajar fotojurnalistik di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dan sering diundang sebagai pembicara dalam acara diskusi foto, sebagai juri dalam lomba-lomba foto, dan sebagai kurator pameran. Oscar Motuloh juga terlibat dalam pembentukan Pewarta Foto Indonesia, sebuah organisasi  yang menaungi para fotojurnalis.

Kekhasan cara penyampaian Oscar Motuloh inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian atas ide yang digunakannya dalam menciptakan foto yang ‘tak lazim’ dilakoni oleh jurnalistik lain. Selain hal tersebut di atas, minimnya kesadaran , khususnya akademisi, untuk mengkaji karya foto memberikan tantangan tersendiri bagi penulis untuk menghadirkan suatu kajian karya foto sebagai penambah khasanah ilmu fotografi, khususnya dalam ranah akademisi.

Baca juga : Cara Foto Close Up

Peran Oscar Motuloh Selain Foto Jurnalistik

Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta - Art

Selain aktif di foto jurnalistik. Ia juga ikut mendirikan Pewarta Foto Indonesia, organisasi yang menghimpun seluruh pewarta fto di Indonesia. Ia juga mengajar di FFTV Institut Kesenian Jakarta serta beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Ia beberapa kali menyelenggarakan pameran dan workshop bertemakan fotografi. Ia juga pernah menerbitkan sejumlah buku ,

Beberapa pameran tunggal yang pernah diadakannya adalah “Voice of Angkor” yang diadakan pada tahun 1997 dalam kerjasama dengan Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta,”Carnaval” pada tahun 1999, “Chansons Périphériques” pada tahun 2002 mengenai kaum minoritas di Prancis, “The Art of Dying” pada tahun 2003 di Bentara Budaya Jakarta, dan yang “Soulscape Road” atau “Lintasan Saujana Jiwa” pada tahun 2009 di Galeri Salihara. Pameran foto “Soulscape Road” ini juga pernah dipamerkan di Tropenmuseum di Amsterdam m kerjasama dengan Pemerintah Belanda.

Ia juga mengedit buku foto seperti “Samudra Air Mata” yang diterbitkan di tahun 2005 yang menampilkan  hasil karya 17 fotografer mengenai tsunami di Aceh. Selain menjadi editor, ia juga mengkuratori beberapa buku foto dan pameran seperti “The Struggle Continues, 100 Days On” yang diluncurkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, “Viewpoints” yang menampilkan karya Sigit Pramono dan Lans Brahmantyo, “Soul Oddyssey” pada tahun 2005, dan “Omar’s Visual Journey” pada tahun 2010.

Pada tahun 2005 juga, bekerja sama dengan 7 fotografer lainnya, menerbitkan buku “The Loved Ones.” Pada tahun 2009 ia menerbitkan buku foto “Soulscape Road” mengenai bencana-bencana yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 2011, bersama dengan 9 fotografer lainnya yang sebagian besar tergabung dalam Liga Merah Putih, mengadakan pameran foto dan peluncuran buku foto yang berjudul “Indonesia A Surprise” yang diadakan di Galeri Salihara. Buku Indonesia A Surprise ini menampilkan beberapa puisi dan essay dari Goenawan Mohamad.

Filosofi dalam Karya Foto Oscar Motuloh

foto jurnalistik perang oscar matuloh

Salah satu dari sekian banyak kategori dalam fotografi jurnalistik adalah bencana alam. Ketika banyak fotografer menampilkan suasana bencana atau pascabencana dengan klise, dan harfiah, namun tidak halnya dengan Oscar Motuloh. Oscar Motuloh merekam objek-objek ‘sepele’ namun sarat dengan jejak batin manusiawi yang menyentuh.

Benturan simbolik ganjil yang dapat membuat orang meneteskan air mata sambil tertawa, atau justru dapat menyiratkan parodi yang konyol. Dalam foto-fotonya perihal bencana tsunami Aceh atau Lapindo di Jawa Timur, misalnya, pembenturan tidak lazim antara objek-objek di sana menyeret pada berbagai perenungan dan asosiasi tidak terduga pada pemahaman baru akan realitas.

Karya foto jurnalistik Oscar Motuloh memang menyeret segala benda dan peristiwa kembali ke arah misteri jiwa, semacam ziarah untuk melacak konstelasi tersembunyi dinamika batin manusia. Aspek ideasional adalah bagaimana seorang fotografer menyikapi fenomena alam dengan menemukan ‘sesuatu’ dan mengungkapkannya dalam berbagai bentuk konsep, teori, dan wacana.

Aspek ideasional ini juga merupakan pengimplementasian media fotografi jurnalistik sebagai wahana berkreasi dan menunjukkan ide serta jati diri seorang fotografer. Peranan ide yang digunakan Oscar Motuloh, serta teknik dan alat yang digunakan Oscar Motuloh dalam penciptaan karya-karya fotografi Oscar Motuloh yang disebut Soulscape Road.

Artikel lain:

, ,

Leave a Reply