Home Fotografi Estetika Fotografi Jalanan Ala Erik Prasetya

Estetika Fotografi Jalanan Ala Erik Prasetya

0
erik prasetya street photographer

Fotografi jalanan merupakan salah satu genre dalam fotografi yang memotret aktivitas di ruang publik kehidupan masyarakat urban yang berada di jalan dan sekitarnya dengan memotret apa adanya tanpa mengarahkan. Fotografi jalanan memotret orang-orang dengan menghadirkan skyscrapers maupun cityscape yang menghadirkan representasi wajah sebuah kota.

Jakarta sebagai ibukota menjadi salah satu kota yang memiliki banyak ruang publik. Ruang publik tersebut di antaranya jalanan, pasar, terminal bis, stasiun dan masih banyak lagi. Banyak aktivitas yang dapat ditangkap oleh kamera di ruang publik tersebut. Hal ini yang dilakukan oleh fotografer yang akan kita bahas kali ini yaitu Erik Prasetya.

Profile dan perjalanan karir Erik Prasetya

Erik Prasetya lahir di Padang, Sumatera Barat pada tahun 1958. Setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung, ia sempat meniti karir di industri perminyakan sebelum beralih ke bidang jurnalistik. Erik menghabiskan sebagian besar karir awalnya untuk meliput laporan berita dan pemotretan komersial. Selain itu, ia juga menjadi reporter berita dan bintang iklan.

Hingga pada tahun 1997, ia bertemu seorang jurnalis foto, Sebastian Salgado. Erik pun memutuskan untuk bekerja dibidang fotografi di bawah Sebastian. Bekerja dan mendapat arahan Sebastian membuat Erik berhasil menemukan gaya fotografi tersendiri.

Berangkat dari apa yang dilakukan Henri, seorang fotografer senior bernama Erik Prasetya mencoba menangkap momen – momen yang ada di Ibukota Jakarta. Erik adalah salah satu fotografer paling berpengaruh di Asia menurut Survey “20 most Influential Asian Photographer” 2012 oleh Invisible Photographer Asia.

Dia telah menjadi street photographer selama kurang lebih 25 tahun, dan dari banyak karyanya Jakarta adalah salah satu kota yang menjadi bidikannya. Jakarta adalah salah satu kota urban, dimana banyak aktivitas masyarakat yang hampir tiada henti dilakukan dari pagi hingga malam. Aktivitas di ruang publik menjadi hal menarik untuk diangkat, karena di sana banyak berkumpulnya masyarakat dari berbagai level, berbagai kepentingan dan berbagai kebutuhan.

Sebagai seorang fotografer Erik banyak menangkap aktivitas dan momen yang terjadi di ruang publik. Banyak karya-karyanya yang menampilkan elemen-elemen grafis. Meskipun diambil secara candid, karya-karyanya banyak memperlihatkan aspek nonteknis. Metode penelitian yang dipakai untuk mengkaji karya Erik yaitu dengan menggunakan metode kualitatif dan memakai analisis dari pemikiran Yuyung Abdi yaitu tentang aspek nonteknis.

Aspek nonteknis di antaranya dapat dilihat dari segi visual artistik, dimensi dan warna. Dari segi non teknis tersebut, akan dilakukan analisis terhadap karya-karya Erik. Dari 34 foto karyanya akan dipilih secara sampling dan kemudian dilihat secara aspek nonteknis. Analisis secara aspek nonteknis ini memberikan gambaran bahwa foto dapat dilihat secara lebih mendalam. Setiap foto yang dibuat membawa pesan kepada para pembaca, bahwa meskipun diambil secara candid, sebuah foto bisa memiliki pesan yang tersirat.

Gaya fotografi Erik yang terkenal hingga ke luar negeri adalah fotografi street improvisational hitam putih. Karya Erik yang menjadikannya satu dari 30 fotografer paling berpengaruh dan menginspirasi di seluruh Asia adalah jurnal dokumenternya tentang Jakarta selama 15 tahun, dengan judul “Estetika Banal”.

Erik pun menjadi salah satu fotografer Indonesia yang terkenal di seluruh Asia dan bahkan telah mendunia. Gaya fotografi yang khas dan prestasinya yang mendunia membuat Erik Prasetyo mendapat julukan sebagai Sang Pelopor Street Photography Tanah Air lho! Hebat ya!

Mengenali ‘keindahan’ keseharian dari, melalui, dan untuk manusia Ala Erik Prasetya

Erik membuat 3 buah seri foto yang ketiganya diusung menjadi sebuah kartu pos dengan tema yang berbeda – beda. Ketiga seri itu diantaranya adalah Street Photo; Street Wear; dan Street, Rain & Style. Karya fotonya merupakan aktivitas masyarakat yang diambil di sekitaran jalan Sudirman, Thamrin dan Gatot Subroto.

Ketiga seri tersebut sangat menarik untuk dibahas, namun hanya seri Street, Rain & Style yang akan dibahas kali ini. Seri Street, Rain & Style yang diangkat karena banyak menampilkan sisi aktivitas hubungan masyarakat dengan sekelilingnya.

Dalam fotografi jalanan, memotret aktivitas manusia di ruang publik tidak hanya harus mengusai aspek teknis fotografi, namun juga aspek nonteknis. Karena genre ini dilakukan tanpa rencana, namun si fotografer harus mampu memotret yang menghasilkan foto dengan nilai estetika yang baik, bisa dari segi komposisi, elemen geometris, warna, sudut pengambilan dan lain sebagainya. Aspek nonteknis ini dapat di asah dengan terus melakukan pemotretan sehingga kemampuan si fotografer bisa meningkat.

Street Photography – Erik Prasetya

Foto di atas diambil di Gelora Bung Karno pada tahun 2013 menggunakan Leica M8. Menggunakan lensa 50 mm, dengan exposure diantaranya ISO 320, kecepatan 1/125 dan diafragma 8. Komposisi foto tersebut adalah komposisi L, hal ini terlihat dengan meilhat pada bagian wanita berkerudung yang sedang memotret (ada di sebelah kanan atas) kemudian alur mata dilanjut ke arah kiri dan berakhir di bagian kepala anak kecil yang sedang difoto.

Elemen geometris yang terdapat pada foto tersebut adalah garis yang banyak terdapat pada bagian background sehingga membentuk susunan kawat, garis-garis maya pada objek manekin. Bentuk yang ada pada foto tersebut adalah lingkaran yang berwarna orange, yang berada di latar belakang, kemudian bentuk terlihat dari objek manekin serta orang-orang yang sedang melakukan pemotretan.

Kesan yang ditimbulkan dari foto tersebut adalah adanya rasa malu melihat objek manekin yang dipajang. Dua orang wanita tampak malu – malu ketika difoto, mereka menutupi alat kelamin pria sebagai simbol dari malu – malu tersebut. Hal yang tabu bagi sebagian orang, karena budaya timur sangat menghormati tatakrama.

Fotografi Jalanan ITC Ambasador – Erik Prasetya

Foto yang diambil dengan menggunakan Leica M8, di ITC Ambasador tersebut dibuat pada tahun 2013. Dengan menggunakan lensa 50 mm, ISO 320, speed 1/125, dan diafragma 4. Komposisi foto tersebut adalah diagonal, hal ini terlihat mulai dari bagiankepala pria yang menggunakan topi kemudian menuju anak yang memegang troli dan kemudian ke arah wanita yang sedang memegang baskom dan berakhir di bagian poster yang memiliki gambar pria dan wanita yang sedang berdiri.

Elemen geometris pada foto tersebut adalah garis yang terlihat pada troli. Bentuk persegi pada gambar telepon genggam yang merupakan latar dari sebuah banner, kemudian bentuk oval dari balon – balon yang juga ada pada banner. Sedangkan bidang terlihat dari susunan anak tangga yang ada di sebelah kiri bawah. Secara psikis warna yang ditampilkan pada foto tersebut berkesan ceria. Hal ini terlihat dari dimasukkannya simbolisasi warna – warni dari balon, senada dengan warna pakaian yang dikenakan oleh si wanita, topi pria dan bagian kecil dari troli.

Foto Jalanan, Angkot – Erik Prasetya

Foto yang diambil di jalan Salemba ini menggunakan kamera Leica M8 dengan lensa yang tidak disebutkan di dalam buku tersebut. Exposurenya menggunakan ISO 640, kecepatan 1/15 dan diafragma 5,6.

Komposisi dari foto tersebut adalah segitiga, alurnya terlihat dari wajah anak kecil yang berada di sisi kanan bawah kemudian menuju bagian wajah wanita yang berada di dalam mobil angkutan umum, lalu ke arah wajah pria yang mengendarai motor..

Eleman geometris yang terlihat adalah garis, yang berada di badan mobil dan juga tiang listrik yang berada di belakang, kemudian bentuk persegi yang ada pada badan mobil. Bidang yang terbentuk adalah pada bagian mobil. Kesan yang terlihat adalah warna yang menuju gelap, dapat terlihat dari pantulan cahaya yang ada di wajah seorang wanita yang berada di dalam mobil.

Simbolisasi warna yang menunjukkan gelap yaitu adanya penggunaan exposure dengan diafragma besar, umumnya diafragma besar digunakan ketika keadaan atau situasi dalam keadaan kekurangan cahaya.

Street, Rain and Style dalam Aspek Nonteknis

Karya Erik dalam Street, Rain and Style ini merupakan kumpulan foto – foto yang di potret di jalan Sudirman, Thamrin dan Gatot Subroto. Menggunakan kamera jenis Leica, proyek ini dikerjakan selama 2 tahun, yaitu dari tahun 2012 sampai 2014. Sebanyak 34 foto dihasilkan dan dikumpulkan ke dalam Jakarta Postcard.

Dalam karya tersebut Erik membagi menjadi dua kategori yaitu Style dan Rain. Style kaitannya dengan pakaian yang di pakai oleh kebanyakan kaum urban di Jakarta. Foto Erik banyak menampilkan subjek wanita, hal ini bukan karena sengaja, tetapi karena memang lebih banyak wanita yang berada di tempat-tempat umum yang menggunakan transportasi publik. Erik menangkap adanya banyak gaya pakaian yang dikenakan oleh para kaum urban.

Menurutnya banyak dari gaya pakaian yang digunakan hanya sekedar menutupi tubuh, tetapi lebih kepada menunjukkan level dimana masyarakat tersebut berada. Selain style dalam berpakaian, juga terdapat style dalam berdandan. Kategori rain yang ditangkap Erik dalam karyanya ingin menampilkan sisi bahwa di tengah hujan pun masyarakat urban masih tetap beraktivitas, masih berjuang dan masih bisa tetap tersenyum.

Menurut Abdi, fotografi terdiri dari dua aspek besar yaitu teknis dan nonteknis. Aspek teknis membicarakan mengenai 5 faktor, yaitu kamera, lensa, filter, exposure dan lingting cahaya. Kelima faktor tersebut menjadi keahlian dasar bagi seorang fotografer. Sedangkan aspek nonteknis terbagi menjadi 4 faktor, yaitu visual artistik, dimensi visual, warna dan substansi POI (Point of Interest). Keempat faktor tersebut masih banyak yang belum digali lebih mendalam.

Dengan menggunakan pemikiran Yuyung Abdi inilah foto-foto karya Erik Prasetya akan dianalisis. Analisis akan dilihat dari segi visual artistik, dimensi visual dan warna. Kumpulan foto –foto Erik yang total sebanyak 34 foto, akan dipilih dengan teknik sampling, teknik sampling yang dilakukan yaitu teknik purposive sampling, yaitu berdasarkan ciri yang memiliki visual artistik, dimensi visual dan warna. Analisis yang dilakukan mengambil segi visual artistik dari sisi komposisi; dimensi visual dari sisi elemen geometris; dan segi warna dari sisi psikis.

KESIMPULAN

Memotret tanpa rencana di ruang publik menjadi satu hal yang menantang, karena di dalamnya fotografer tidak mengambil kontrol atas apa yang dilakukan oleh subjek foto. fotografer tidak mengarahkan gaya, cenderung candid dan spontan. Itulah fotografi jalanan. Karya – karya Erik banyak menangkap momen tersebut, meskipun tidak dibahas seluruhnya dalam penulisan kali ini. Efek blur juga dipakai dalam membuat fotografi jalanan, sehingga kesan pergerakan dapat terasa dan terkesan dinamis.

Segi nonteknis yang dipakai untuk menganalisis karya foto Erik memperlihatkan bahwa foto yang dibuat secara candid dapat dianalisis. Fotografi jalanan yang cenderung bukan dibuat – buat, karena memang itulah sifat fotografi jalanan, memotret apa adanya, meskipun beberapa fotonya terdapat penambahan bantuan blitz, tetapi tidak mengurangi esensi dari fotografi jalanan.

Permainan elemen geometris serta warna yang spontan dipilih membuat karya Erik menjadi lebih menarik dan bisa berlama – lama untuk dipandang. Fotografi jalanan, bukan sebatas candid, tetapi bagaimana si fotografer dapat menampilkan pesan, mengkomunikasikannya melalui media foto, sehingga membawa si penikmat foto untuk bukan sekedar menikmati namun lebih jauh dari itu untuk bisa merenungi.

Artikel Lain:

, , ,

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version