CakBass.com Opini Kamera Mirrorless, Alasan Kenapa Mirrorless?

Kamera Mirrorless, Alasan Kenapa Mirrorless?

kamera mirrorless, 7 alasan pindah ke mirrorless

Mirrorless, Kesan Pertama

Banyak orang sudah beralih ke mirrorless dengan beberapa alasan, di antaranya karena mengikuti trend dan menyukai ukurannya yang kompak dan ringan. Untuk beberapa orang mirrorless sangat membantu terutama bagi para backpacker & pelancong yang tidak mau ribet.

Beberapa tahun lalu, saat memutuskan membeli sony a6000 mirrorless masih di pandang sebelah mata. Sebagai pemula saya justru terkesan dengan kejernihan gambar hasil dari kamera mungil ini.

Pro dan kontra sepertinya masih terus berlanjut di kalangan fotografer baik pro maupun sekedar penghobi. Guys, waktu terus berjalan dan perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Sama Seperti kamera hp/ saat ini yang sedang berjalan menuju kesempurnaannya.

Posisi Sensor Kamera Mirrorless

Saat kita melakukan penggantian lensa di kamera DSLR, bagian sensor kamera kita akan terlindungi dengan baik. Posisi cermin yang berhadapan langsung dengan udara luar yang mengandung banyak partikel kecil seperti debu, moisture dan unsur lain tentunya membawa resiko kerusakan fatal pada komponen utama ini.

Dan jika terjadi kerusakan sensor, wassalam! Alamat kita akan libur panjang memotret.
Tapi dari opini pribadi saya, perusahaan yang leading di pasar kamera mirrorless tidak mungkin untuk tidak memperhitungkan hal ini. Reputasi brand besar yang sudah exist berpuluh tahun adalah taruhannya.

Di awal-awal mulai merambahnya teknologi mirrorless ini mungkin akan banyak kejadian Seperti sensor bergaris, sensor mati sebagian (dead pixel Seperti layar LCD TV), dll. Sejarah berulang, sama seperti saat DSLR mulai menggantikan SLR analog di era 90an, banyak masalah muncul. Perlahan tapi pasti, sang suksesor selalu belajar dan memperbaiki diri hingga menjadi seperti aliran agama yang membawa fanatisme penggunanya.

Sebilah sensor yang perannya sedemikian penting tentunya akan di lindungi dengan berbagai cara oleh si pembuatnya. Percaya saja, pabrikan punya SDM hebat-hebat dan mereka mau mendengar suara pengguna recehan seperti kita. Nggak percaya? bombardir model baru yang hampir setiap tahun release, itu bukti improvement dari pabrikan.

Dari sisi pengguna, seharusnya kita juga lebih berhati-hati dengan urusan ini. Ikuti manual book yang sebenarnya adalah kitab suci dari sebuah produk tapi selalu diam bertapa di dalam kardus dan hanya menjadi nilai tambah sat kamera di jual sebagai barang second hand.

Jika kurang mengerti cara handling-nya, sebaiknya kita bawa kamera kesayangan kita ke service center masing-masing brand. Jangan bikin rumus sendiri dan kira-kira, itu kamera! Barang mahal. Sebaiknya serahkan ke ahlinya!

Electronic Viewfinder Pada Kamera Mirrorless

Dengan menghilangkan keberadaan cermin dan prisma, kamera mirrorless menggunakan electronic viewfinder. Tangkapan cahaya di sensor di konversikan dan di tayangkan langsung ke layer LCD atau viewfinder, kita bisa memilih salah satunya.

Sekali lagi pada awal kemunculannya, viewfinder ini bikin pusing kepala terutama bagi yang memiliki masalah dengan mata minus atau silinder. Dengan jumlah dot pixel yang masih sedikit yang menyebabkan gambar terlihat kasar. Entah apa namanya, pokoke bikin pusing!

Sekarang viewfinder sudah berbeda, sangat jauh berbeda!
Jumlah pixel yang naik secara signifikan membuat kita Seperti melihat hasil pantulan prisma di kamera DSLR. What You See is What You Get, begitu kira-kira istilahnya.

EVF dan Faktor Lag

Pakai cara goblok-goblokan aja…
Coba pakai kamera mirrorless seri a5100 atau Nikon Z atau Canon M. Bisa disebut mereka satu angkatan. Sekarang pegang kamera Sony A7III atau seri a7RIV atauCanon seri R. Bandingkan masing-masing brand itu apple to apple.
Kalau “Angkatan TUA” itu masih lag, saya rasa hal yang wajar. Tahun-tahun model kamera itu release mereka masih “babat alas”.
Udah coba seri terbarunya yang saya sebutkan di atas? Masih lagging kah?
Kalaupun menurut kita masih ada lagging, improvement ayng di lakukan pabrikan sudah jauh dari sebelumnya.

Baterai Kamera Mirrorless Boros?

Dulu, jaman saya masih menggunakan sony a6000, saat hunting bareng saya pasti akan membawa baterai kamera sebanyak mungkin, saya punya 7 baterai cadangan. 2 baterai original, sisanya dari third party karena alasan budget, hehe. Rata-rata terpakai 4-5 baterai untuk shoot 400-500 foto.

Kenapa baterai mirrorless terkesan boros? Dan menjadi titik lemah yang membuat pengguna kamera DSLR enggan “pindah agama?” Ini disebabkan karena semua pemrosesan EVF atau penggunaan live view lewat layer LCD benar-benar menghabiskan daya.

Sekarang, beberapa brand market leader di segmen kamera mirrorless sudah membuat improvement yang signifikan. Yaitu dengan menambah kapasitas baterai. Jajaran seri A7 mark III sampai seri terakhir dari Sony sudah meningkatkan kapasitas baterai  sampai 2280 mAh dari baterai untuk seri sebelumnya yang hanya berkapasitas 1400mAh.

Berdasarkan pengalaman menggunakan kamera sony a7III sampai a7RIV, satu baterai tidak pernah sampai habis saat digunakan hunting bareng dengan ritme yang Seperti sebelumnya yaitu 400-500 foto sekali hunting. Ya, walaupun tetap saja untuk ambil aman, saya tetap membawa baterai cadangan yang terisi penuh. Dari perkembangan ini, saya pribadi menganggap issue baterai kamera mirrorless ini udah teratasi, closed!

Sekali lagi kamera mirrorless menunjukkan improvement yang luar biasa, pabrikan akan terus melakukan riset untuk memanjakan para fotografer baik yang professional maupun sekedar penghobi dan penikmat fotografi.

Ergonomi, Pilih Gagah dan Besar Atau Kompak dan Ringan?

Beberapa menganggap akan terlihat lebih professional dengan bodi kamera besar di tangan. Atau sekedar di selempangkan, klien akan melihat itu kamera professional dan fotografernya pasti professional. Disisi lain, para pengguna fanatik mirrorless lebih bangga dengan kamera kecilnya.

Dari sisi ergonomi, memegang pegangan kecil dalam waktu lama menurut beberapa orang dapat menyebabkan tangan kram. Oh, mungkin ini buat yang tangan super besar. Kebetulan tangan saya tidak terlalu besar. Ini yang menyebabkan banyak epngguna kamera DSLR sulit untuk move on.

Saya pribadi tidak pernah mengalami masalah dengan kram. Terus terang saya tidak bisa membandingkan dengan kamera DSLR, karena dari awal belajar fotografi sudah memulainya dengan kamera mirrorless. Jika ada pendapat lain, silakan tulis di kolom komentar ya…

Variasi Pilihan Lensa

Awal-awal punya kamera a6000, saya lumayan tersiksa dengan pilihan lensa yang masih sedikit. Jalan satu-satunya adalah membeli adapter. Dengan kondisi dan teknologi adapter saat itu yang juga baru tumbuh, teknologi dan pilihan merk adapter lensa belum secanggih dan sebanyak sekarang sekarang.

Jadilah akhirnya memotret dengan lensa tele mounting Canon di bodi Sony a6000. Auto focus? Di adapter memang tulisannya auto focus. Tapi sesuai yang saya jelaskan di atas, teknologi adapter lensa belum Seperti sekarang. Ya, manual focus bro, haha…

Dulu Sony hanya memiliki sekitar 10 lensa ketika a7 dan a6000 dirilis, sekarang sudah ada lebih dari 40 lensa. Beberapa merk third party juga banyak memproduksi lensa mirrorless seperti yang mereka lakukan untuk kamera DSLR.

Auto Focus

Sebelum memutuskan membeli kamera sony a6000, saya sempat melihat review di beberapa channel di youtube. Salah satu kelemahan kamera mirrorless ini adalah tracking auto focus yang lambat.

Sekarang sudah jauh berbeda. Di generasi Sony a7III sampai seri yang terbaru masalah focus ini sudah sangat berbeda. Eye focus yang selalu menjadi unggulan untuk di jual sudah sangat luar biasa cepat. Tidak perlu khawatir, kita tidak akan kehilangan moment saat memotret. Bukan iklan, silakan coba sendiri!

Hey John, this is my opinion!
You wrote this article (2019) when mirrorless has been growth with significant improvement.

Counter opinion to : https://www.jmpeltier.com/disadvantages-of-mirrorless-cameras/

FAQ

  • Apa perbedaan kamera Mirrorless dengan kamera DSLR?

    kamera mirrorless vs kamera dslr

    Kamera mirrorless mengandalkan electronic viewfinder saat kita membidik subyek dan tidak menggunakan cermin untuk live view subyek saat membidik. 

4 Likes

Author: cakbass

Leave a Reply

%d bloggers like this: